Vaccinastic Beasts and Where to Find Them
Feb 25, 2021
322 words
~2 min
đŸ‡®đŸ‡©Sebagian besar dari kita mungkin telah melihat tabel estimasi vaksinasi dari Bloomberg - John Hopkins University yang dipublikasi oleh media The Strait Time berseliweran di media sosial. Kemudian selang beberapa hari disusul reaksi dari beberapa otoritas Indonesia terkait prediksi tersebut.
Kurang ekuivalen agaknya jika membandingkan Israel yang penduduknya ± 9.2 juta jiwa, dengan Indonesia yang penduduknya ± 273 juta jiwa. Agar sedikit lebih sepadan saya coba membandingkan dengan Brazil yang penduduknya ± 212 juta jiwa.
Catatan: Perbandingan ini memiliki keterbatasan karena perbedaan infrastruktur kesehatan, distribusi geografis (Indonesia sebagai negara kepulauan), dan ketersediaan supply chain vaksin. Analisis ini hanya membandingkan skala populasi, bukan kompleksitas implementasi.
Jika ingin menelan data ini mentah-mentah tentu pahit rasanya melihat durasi selama itu untuk mencapai batas 75% vaksinasi, bahkan jika dosis dinaikkan hingga 4 kali lipat setara Brazil, Indonesia masih perlu 4.6 tahun untuk menyelesaikan 75% vaksinasi.
Pada awal tahun Kemenkes sebenarnya sudah mengeluarkan panduan vaksinasi hingga Maret 2022, dengan target 181.5 juta jiwa (± 66% penduduk Indonesia) di mana dosis hariannya belum saya ketahui jumlahnya. Jika kita ambil total hari dari awal Februari 2021 hingga akhir Maret 2022 sebesar 454 hari, dengan asumsi setiap orang memerlukan 2 dosis, maka jumlah rata-rata dosis harian yang dibutuhkan untuk mencapai target Kemenkes adalah:
Jika data vaksinasi harian Bloomberg diperoleh dari otoritas resmi di Indonesia, artinya dosis harian Indonesia pada awal program ini sekitar 13 kali lebih sedikit dari rata-rata vaksin harian yang dibutuhkan. Namun perlu dicatat bahwa perhitungan ini mengasumsikan laju konstan, padahal program vaksinasi biasanya mengikuti pola akselerasi bertahap (ramp-up phase). Data Bloomberg juga kemungkinan merupakan snapshot dari fase awal yang umumnya lebih lambat.
Artinya mencapai target Kemenkes di atas tampaknya cukup berat dengan laju vaksinasi saat ini, kecuali jika dalam beberapa bulan ke depan ada lonjakan signifikan dalam pasokan vaksin dan mobilisasi vaksinator untuk menambal kekurangan di awal program.